1. Pendahuluan
Ilmu Alamiah Dasar (IAD) merupakan
salah satu komponen dari sejumlah Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) dan menjadi
mata kuliah wajib di fakultas non-eksakta. Tujuan MKDU bertujuan mendidiK para
mahasiswa agar menjadi warga negara sarjana yang mempunyai kualifikasi, sebagai
berikut: berjiwa Pancasila, sehingga segala keputusan dan tindakannya
mencerminkan pengalaman nilai-nilai pancasila, memiliki integritas kepribadian,
memiliki wawasan komprehensif dan pendekatan integral dalam sikap terhadap permasalahan
kehidupan.
1.1 Pengertian dari Ilmu
Alamiah Dasar
Ilmu Alamiah Dasar jika dipenggal
berasal dari tiga suku kata. Ilmu artinya bagian dari ilmu pengetahuan manusia.
Alamiah artinya terjadi dengan sendirinya dan dasar artinya permulaan suatu bentuk.
Istilah ini berasal dari Eropa Daratan
(Belanda,Jerman,Inggris,danAmerika). Yang mana istilah ini masuk ke
indonesia pada zaman yang berbeda-beda. Ilmu alamiah dapat dilihat dalam arti
luas dan dalam arti sempit. Dalam arti luas ilmu mencakup semua pengetahuan.Ilmu
alamiah dasar adalah merupakan kumpulan pengetahuan tentang konsep-konsep dasar
dalam bidang ilmu pengetahuan alam dan teknologi dalam manusia. Ilmu alamiah
atau biasa disebut dengan ilmu pengetahuan (natural science) merupakan
pengetahuan yang mengkaji tentang gejala-gejala dalam alam semesta termasuk
dimuka bumi ini, sehingga terbentuk konsep dan prinsip. Ilmu Alamiah dasar
hanya mengkaji konsep-konsep dan prisip-prinsip dasar yang esensial
saja.Bagian-bagian dari Ilmu Alamiah Dasar meliputi penciptaan manusia yang
telah diberikan akal untuk berfikir, lahirnya ilmu alamiah, keterbatasan ilmu
alamiah,pembagian ilmu pengetahuan dsb.Ilmu alamiah dasar merumuskan pemikiran
yang selalu dilandasi oleh realisme, karena ilmu sains ini mempelajari tentang
metode almiah dan gejala alamiah sehingga tidak dapat terlepas dari objek yang
mengaitkan panca indra. IAD mempermasalahkan struktur dan berlangsungnya dunia
alam, dimana manusia pun dianggap sebagai bagian dari alam itu sendiri. IAD
bukanlah suatu ilmu tersendiri, melainkan merupakan kumpulan pengetahuan
tentang konsep-konsep dasar dalam bidang ilmu pengetauan alam dan pengetahuan.
1.2 Perkembangan Pikiran Alam
Manusia
Manusia sebagai makhluk berpikir
diberi hasrat ingin tahu tentang benda dan peristiwa yang terjadi di sekitarnya
termasuk juga ingin tahu tentang dirinya sendiri.Rasa ingin tahu ini mendorong
manusia untik menjelaskan gejala-gejala alam serta berusaha memecahkan masalah
yang dihadapi dan akhirnya manusia dapat mengumpulkan pengetahuan. Pengetahuan
yang terkumpul semakin banyak disebabkan rasa ingin tahu manusia yang terus
berkembang juga daya pikirnya, pada hewan usaha untuk eksplorasi ke alam
sekitar di dorong oleh instink yang terpusat pada usaha untung mempertahankan
dan melangsungkan kehidupan. Rasa ingin tahu yang terus menerus berkembang dan
seolah-olah tanpa batas itu menimbulkan pemberdaharaan pengetahuan pada
manusia. Dengan meningkatnya kemampuan mengingat dan berpikir, manusia dapat
mendayaguanakan pengetahuan terdahulu dan kemudian menggabungkan dengan
pengetahuan yang baru sehingga menghasilkan pengetahuan yang lebih baru lagi.
1.3 Mitos, Penalaran &
Cara Memperoleh Pengetahuan
Mitos adalah sebuah imajinasi dari manusia yang berusaha
untuk menerangkan gejala alam yang ada pada saat itu yang dikaitkan dengan
kepercayaan akan adanya kekuatan ghaib. Namun, disebabkan oleh keterbatasan
manusia dalam menjelaskan hal tersebut sehingga cenderung diidentikkan dengan
seorang dewa/dewi, tokoh misteri serta sesuatu yang berbau mistis. Sehingga
pengetahuan yang diperoleh bersifat subyektif.
Rasa ingin tahu manusia ternyata
tidak dapat terpuaskan hanya atas dasar pengamatan ataupun pengalaman. Untuk
itulah, manusia mereka-reka sendiri jawaban atas keingintahuannya itu.
Contohnya:
- Cerita Nyai Roro Kidul (Ratu Laut Selatan)
- Cerita Joko Tarub
Legenda adalah sebuah cerita yang dirangkai secara turun
temurun dan dipercayai oleh masyarakat karena terbukti secara logis dalam
pendeskripsian ceritanya, cenderung mengemukakan kehadiran seorang tokoh yang
dikaitkan dengan terjadinya suatu daerah.
Contohnya:
- Tangkuban perahu
- Sangkuriang
Cerita Rakyat adalah suatu peristiwa yang dikisahkan untuk
menjelaskan akan terjadinya sesuatu yang ada dimuka bumi ini. salah satu contoh
kisah rakyat yakni tangkuban perahu sebagai perwujudan kemarahan sangkuriang
yang telah gagal dalam mewujudkan calon pinangannya yang merupakan ibu
kandungnya sendiri. Kisah bawang merah dan bawang putih yang telah kita kenal
sejak dahulu dapat menjadi salah satu contoh dalam hal ini.
Contohnya :
- Malin Kundang
- Si Pitung
Cara Memperoleh Pengetahuan
1. Empiris
Empiris yaitu pengetahuan yg disusun menurut pengalaman, paham yg dikembangkan disebut Empiris. Bagi orang yang rasionalis mengatakn bahawa pengetahuan manusia itu diperoleh melalui penalaran rasional yg abstrak,namun diperoleh melalui pengalaman yg kongkrit.
Empiris yaitu pengetahuan yg disusun menurut pengalaman, paham yg dikembangkan disebut Empiris. Bagi orang yang rasionalis mengatakn bahawa pengetahuan manusia itu diperoleh melalui penalaran rasional yg abstrak,namun diperoleh melalui pengalaman yg kongkrit.
2. Rasionalisme
Rasionalisme yaitu suatu cara yg didasarkan pada suatu rasio. Padanganya berpendapat bahwa rasio adalah sumber dan pangkal dari segala pengertian, dan rasiolah yang membawa orang pada kebenaran.
Mitos diterima akibat keterbatasan penalaran
Rasionalisme yaitu suatu cara yg didasarkan pada suatu rasio. Padanganya berpendapat bahwa rasio adalah sumber dan pangkal dari segala pengertian, dan rasiolah yang membawa orang pada kebenaran.
Mitos diterima akibat keterbatasan penalaran
Pada zaman dahulu manusia dapat
menerima mitos dengan mudah karena akibat keterbatasan penalaran. Dalam mitos
sebenarnya manusi berusaha dengan sungguh-sungguh dan dengan imajinasinya
menerangkan gejala alam yang ada, sehingga orang mengaitkan dengan seorang
tokoh atau dewa.
Mitos itu timbul disebabkan antara
lain karena keterbatasan alat indera manusia misalnya:
1. Alat Penglihatan
Banyak benda-benda yang bergerak
begitu cepat sehingga tak tampak jelas oleh mata. Mata tidak dapat membedakan
benda-benda. Demikian juga jika benda yang dilihat terlalu jauh, maka tak mampu
melihatnya.
- Alat Pendengaran
Pendengaran manusia terbatas pada
getaran yang mempunyai frekuensi dari 30 sampai 30.000 perdetik. Getaran di
bawah 30 atau di atas 30.000 perdetik tak terdengar.
- Alat Pencium dan Pengecap
Bau dan rasa tidak dapat memastikan
benda yang dicecap maupun diciumnya . manusia hanya bisa membedakan 4 jenis
masa yaitu rasa manis,masam ,asin dan pahit. Bau seperti parfum dan bau-bauan
yang lain dapat dikenal oleh hidung kita bila konsentrasi di udara lebih dari
sepersepuluh juta bagian. Melalui bau, manusia dapat membedakan satu benda
dengan benda yang lain namun tidak semua orang bisa melakukannya.
- Alat Perasa
Alat perasa pada kulit manusia dapat
membedakan panas atau dingin namun sangat relative sehingga tidak bisa dipakai
sebagai alat observasi yang tepat.
Alat-alat indera tersebut di atas
sangat berbeda-beda, di antara manusia: ada yang sangat tajam
penglihatannya, ada yang tidak. Demikian juga ada yang tajam penciumannya ada
yang lemah. Akibat dari keterbatasan alat indera kita maka mungkin timbul salah
informasi, salah tafsir dan salah pemikiran. Untuk meningkatkan kecepatan dan
ketepatan alat indera tersebut dapat juga orang dilatih untuk itu, namun tetap
sangat terbatas.
Usaha-usaha lain adalah penciptaan
alat. Meskipun alat yang diciptakan ini masih mengalami kesalahan. Pengulangan
pengamatan dengan berbagai cara dapat mengurangi kesalahan pengamatan
tersebut. Jadi, mitos itu dapat diterima oleh masyarakat pada masa itu karena:
a. Keterbatasan pengetahuan yang
disebabkan karena keterbatasan penginderaan baik langsung maupun
dengan alat.
b. Keterbatasan penalaran manusia
pada masa itu.
c. Hasrat ingin tahunya terpenuhi
2. Metode Ilmiah
Metode Ilmiah adalah cara atau
prosedur dalam memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Syarat-syarat ilmu
pengetahuan: obyektif, metodik, sistematik dan berlaku umum. Dalam hal ini
metode ilmiah menggabungkan cara berpikir induktif dan cara berpikir deduktif
dalam membangun tubuh pengetahuannya.
2.1 Ilmiah & Tidak Ilmiah
Penelitian Ilmiah Menggunakan kaidah-kaidah ilmiah (Mengemukakan
pokok-pokok pikiran, menyimpulkan dengan melalui prosedur yang sistematis
dengan menggunakan pembuktian ilmiah/meyakinkan. Ada dua kriteria dalam
menentukan kadar/tinggi-rendahnya mutu ilmiah suatu penelitian yaitu:
- Kemampuan memberikan pengertian yang jelas
tentang masalah yang diteliti
- Kemampuan untuk meramalkan sampai dimana
kesimpulan yang sama dapat dicapai apabila data yang sama ditemukan di
tempat/waktu lain
Penelitian tidak ilmiah (Tidak
menggunakan metode atau kaidah-kaidah ilmiah)
Mendapatkan pengetahuan dari opini/pendapat orang merupakan pengetahuan yang tidak
ilmiah karena belum tentu dapat di pertanggungjawabkan atau dibuktikan.
2.2 Langkah-Langkah Operasional
a. Perumusan masalah
Yang dimaksudkan dengan masalah
merupakan pertanyaan apa, mengapa, atau bagaimana tentang suatu objek yang
diteliti. Masalah ini harus jelas batas-batasnya serta dikenal faktor-faktor
yang mempengaruhinya.
b. Penyusunan hipotesis
Merupakan jawaban sementara atau
dugaan jawaban pertanyaan yang diajukan, materinya merupakan kesimpulan dari
kerangka berpikir yang dikembangkan.
c. Pengujian hipotesis
Merupakan pengumpulan fakta-fakta
yang relevan dengan hipotesis yang telah diajukan untuk dapat memperlihatkan
apakan fakta-fakta tersebut mendukung hipotesis atau tidak.
d. Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan didasarkan atas
penilaian atau melalui analisis dari fakta untuk melihat apakah hipotesis yang
diajukan diterima atau tidak. Hipotesis di terima bila fakta yang terkumpul itu
mendukung hipotesis tersebut.
2.3 Keunggulan & Keterbatasan
Keunggulan
Ciri ilmiah yaitu obyektif, metodik,
sistimatik dan berlaku umum olehkarena itu orang akan terbimbing sedemikian
hingga padanyaterkembangkan suatu sikap ilmiah.Sikap ilmiah yaitu :
1). Mencintai kebenaran yang
obyektif, dan bersikap adil
2). Menyadari bahwa kebenaran ilmu
tidak absolut
3). Tidak percaya pada takhyul,
astrologi maupun untung-untungan.
4). Ingin tahu lebih banyak
5). Tidak berpikir secara prasangka
6). Tidak percaya begitu saja pada
suatu kesimpulan tanpa adanyabukti-bukti yang nyata.
7). Optimis, teliti dan berani
menyatakan kesimpulan yang menurut keyakinan ilmiahnya adalah benar.
Keterbatasan
Dengan metode ilmiah dapat
dihasilkan ilmu atau pengetahuan yang ilmiah. Dalam pengujian
hipotesis, diperlukan data. Data ini berasal dari pengamatan yang
dilakukan oleh panca indera. Kita mengetahui bahwa panca indera
mempunyai keterbatasan untuk menangkap sesuatu fakta. Dengan demikian maka data
yang terkumpul juga tidak sesuai dengan yang sebenarnya.
Kesimpulan yang diambil berdasarkan data tidak benar, tentu saja juga tidak
akan benar. Jadi,peluang terjadinya kekeliruan suatu kesimpulan yang
diambil berdasarskan metode ilmiah tetap ada. Oleh karena itu semua kesimpulan
ilmiah, atau kebenaran ilmu bersifat tentatif, artinya kesimpulan
itu dianggap benar selama belum ada kebenaran ilmu yang dapat menolak
kesimpulan itu. Sedangkan kesimpulan ilmiah yang dapat menolak kesimpulan
ilmiah yang terdahulu, menjadi kebenaran ilmu yang
baru.Keterbatasan lain yaitu tidak dapat menjangkau untuk membuat
kesimpulan yang bersangkutan dengan baik dan buruk atau sistim nilai,tentang
seni dan keindahan, dan juga tidak dapat menjangkau untuk menguji
adanya Tuhan.
Sumber:
Harmoni, Ati. 1992. Pengantar
Ilmu Alamiah Dasar. Depok: Universitas Gunadarma
No comments:
Post a Comment